G Industry Media

Dalam dan Luar Dunia Game Indonesia

Rupiah Menguat ke Rp 16.355,5 per Dolar AS Seiring Spekulasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed

rupiah

Jakarta, 28 Agustus 2025 – Nilai tukar Rupiah mengalami penguatan signifikan di pasar valuta asing domestik pada hari ini. Rupiah tercatat menembus level sekitar Rp 16.355,5 per dolar AS, menguat dibandingkan dengan sesi perdagangan sebelumnya. Penguatan ini ditopang faktor sentimen positif dari pasar global yang mengantisipasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve Amerika Serikat dalam waktu dekat.

Analis pasar memandang bahwa ekspektasi pemangkasan suku bunga tersebut akan mendorong aliran modal asing kembali ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga meningkatkan permintaan terhadap mata uang Rupiah. Selain itu, fundamental ekonomi Indonesia yang relatif stabil serta pengelolaan fiskal pemerintah yang kondusif menjadi faktor pendukung penguatan nilai tukar Rupiah.

Sentimen Pasar dan Dampaknya

Pergerakan nilai tukar Rupiah saat ini menjadi indikasi bahwa investor memberikan respons positif terhadap sinyal-sinyal kebijakan moneter global. Bank Indonesia juga diyakini akan terus menjaga stabilitas nilai tukar dengan berbagai instrumen kebijakan, mengingat volatilitas pasar keuangan dunia yang masih cukup tinggi.

Penguatan Rupiah ini diharapkan memberikan efek positif pada daya beli masyarakat dan menekan inflasi yang selama ini menjadi perhatian pemerintah. Di sisi lain, sektor ekspor diprediksi tetap kompetitif karena Rupiah yang menguat belum terlalu drastis, sehingga produk Indonesia tetap bersaing di pasar internasional.

Proyeksi ke Depan

Meski begitu, para analis mengingatkan bahwa dinamika global seperti ketegangan geopolitik dan perkembangan ekonomi di negara besar masih berpotensi mempengaruhi pergerakan nilai tukar. Oleh karenanya, penguatan Rupiah harus disikapi dengan hati-hati dan tetap memerlukan langkah-langkah strategis dari pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Investor dan pelaku pasar disarankan terus memonitor perkembangan kebijakan moneter global terutama hasil meeting The Fed yang akan berlangsung bulan depan, yang kemungkinan besar menjadi faktor penentu besar bagi nilai tukar Rupiah ke depan.