Super Garuda Shield adalah latihan militer gabungan yang diselenggarakan setiap tahun, dipimpin oleh Indonesia bersama Amerika Serikat. Acara ini merupakan pengembangan dari “Garuda Shield” yang telah berlangsung sejak 2009, namun sejak 2022 diperluas dengan melibatkan lebih banyak negara sekutu di kawasan Indo-Pasifik.
Tujuan utama latihan ini adalah memperkuat kerja sama pertahanan, meningkatkan interoperabilitas pasukan, dan menunjukkan kesiapan militer menghadapi potensi ancaman regional, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Laut China Selatan.
Super Garuda Shield 2025 Resmi Dimulai
Jumlah Pasukan dan Negara Peserta
Pada 25 Agustus 2025, latihan gabungan ini resmi dibuka dengan upacara militer di Jakarta. Indonesia menurunkan 4.105 personel TNI, sementara Amerika Serikat mengirim lebih dari 3.000 tentara. Total, ada 13 negara yang ikut berpartisipasi, termasuk Jepang, Australia, Singapura, Filipina, Korea Selatan, hingga Inggris.
Beberapa negara lain juga mengirimkan observer, menandakan besarnya perhatian internasional terhadap kegiatan ini.
Lokasi Latihan
Latihan Super Garuda Shield 2025 tidak hanya berpusat di Jakarta. Simulasi tempur dilakukan di beberapa lokasi strategis, termasuk:
-
Sumatra (latihan amfibi dan darat)
-
Laut Natuna Utara (latihan maritim)
-
Jakarta dan Jawa Barat (latihan komando gabungan)
Fokus Latihan Tahun Ini
Simulasi Operasi Gabungan
Tahun ini, Super Garuda Shield menekankan pada simulasi operasi gabungan darat, laut, dan udara. Beberapa agenda utama:
-
Latihan amfibi: pendaratan pasukan di pantai dengan kapal perang dan kendaraan lapis baja.
-
Latihan udara: penggelaran jet tempur dan helikopter untuk mendukung operasi darat.
-
Latihan cyber defense: perlindungan infrastruktur digital dari serangan siber, yang kini menjadi bagian penting dari perang modern.
Humanitarian Assistance
Selain latihan tempur, pasukan juga menggelar skenario bantuan kemanusiaan (Humanitarian Assistance and Disaster Relief/HADR), seperti penanggulangan bencana gempa dan tsunami. Hal ini penting mengingat Indonesia berada di jalur cincin api dengan risiko bencana tinggi.
Sinyal Kekuatan di Indo-Pasifik
Konteks Geopolitik
Super Garuda Shield 2025 dipandang sebagai sinyal kuat terhadap dinamika di Indo-Pasifik. Ketegangan di Laut China Selatan, klaim tumpang tindih, dan meningkatnya aktivitas militer China di wilayah perairan internasional menjadi latar belakang penting dari latihan ini.
Amerika Serikat menyebut latihan ini sebagai bukti komitmen mereka menjaga stabilitas kawasan. Sementara Indonesia menekankan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari diplomasi pertahanan untuk menjaga “Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.”
Diplomasi Militer
Bagi Indonesia, keterlibatan dalam Super Garuda Shield bukan hanya soal latihan, tapi juga bentuk diplomasi militer. Dengan memperkuat hubungan bersama sekutu besar seperti AS, Jepang, dan Australia, Indonesia berharap posisi strategisnya di kawasan semakin kuat.
Reaksi Pemerintah dan Militer
Pernyataan TNI
Panglima TNI menegaskan bahwa Super Garuda Shield 2025 bukan diarahkan untuk menantang negara tertentu, melainkan meningkatkan kemampuan pertahanan dan kerja sama internasional. Namun, ia tidak menampik bahwa latihan ini juga menunjukkan kesiapan Indonesia dalam menghadapi ancaman eksternal.
Respons Pemerintah
Menteri Pertahanan menambahkan bahwa keikutsertaan 13 negara dalam latihan ini adalah bentuk kepercayaan terhadap Indonesia sebagai mitra strategis. “Kita ingin memastikan kawasan tetap aman, stabil, dan bebas dari konflik terbuka,” ujarnya dalam konferensi pers.
Perspektif Pakar
Analis Keamanan
Pakar pertahanan dari LIPI menilai Super Garuda Shield 2025 memiliki dua efek utama:
-
Efek militer: meningkatkan keterampilan TNI dan memperluas pengalaman dalam operasi gabungan.
-
Efek diplomasi: memperkuat posisi tawar Indonesia dalam percaturan geopolitik Indo-Pasifik.
Kritik dan Kekhawatiran
Namun, ada juga pihak yang mengkritik. Beberapa kelompok masyarakat sipil menilai latihan besar ini berpotensi memicu ketegangan dengan China. Mereka khawatir Indonesia akan terlalu condong ke blok barat, padahal secara tradisional Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif.
Dampak Ekonomi dan Regional
Dorongan Industri Pertahanan
Selain dampak geopolitik, Super Garuda Shield juga memberi peluang bagi industri pertahanan Indonesia. Dengan keterlibatan berbagai negara, Indonesia bisa menjajaki transfer teknologi dan kerja sama industri alutsista.
Efek Jangka Panjang
Latihan ini juga memberi multiplier effect pada ekonomi lokal. Kehadiran ribuan personel asing memicu peningkatan kebutuhan logistik, transportasi, hingga pariwisata di daerah lokasi latihan.
Pandangan Publik
Antusiasme Netizen
Di media sosial, tagar #SuperGarudaShield2025 sempat trending. Banyak netizen yang bangga melihat TNI tampil sejajar dengan tentara asing. Video parade militer di Jakarta ramai dibagikan dan menuai komentar positif.
Kritik dari Kalangan Aktivis
Di sisi lain, beberapa aktivis mempertanyakan transparansi anggaran. Mereka menyoroti biaya besar latihan gabungan ini di tengah kondisi ekonomi nasional yang masih menantang.
Perbandingan dengan Tahun Sebelumnya
-
2022: pertama kali Super Garuda Shield diperluas menjadi multinasional, melibatkan 14 negara.
-
2023–2024: fokus pada interoperabilitas darat dan laut.
-
2025: menambahkan dimensi cyber defense dan humanitarian relief, sejalan dengan ancaman modern.
Perluasan agenda ini menunjukkan bahwa latihan tidak sekadar pamer kekuatan, tetapi adaptasi terhadap tantangan global.
Penutup
Super Garuda Shield 2025 telah resmi dimulai dengan skala yang lebih besar, melibatkan ribuan pasukan dari Indonesia, Amerika Serikat, dan sekutu regional. Latihan ini bukan hanya memperkuat kemampuan militer, tapi juga menjadi simbol diplomasi pertahanan Indonesia di panggung global.
Bagi Indonesia, keterlibatan aktif dalam latihan gabungan ini adalah bagian dari strategi menjaga kedaulatan sekaligus membangun kepercayaan internasional.